Artikel Feature : Antara Budi, Budaya dan PandeArtikel Feature : Antara Budi, Budaya dan Pandemimi

Oleh : Angelica Callysta Viera (XII MIPA1)

          Bagai buana dan cakrawala. Itulah kalimat yang pas untuk menafsirkan perasaan masyarakat tatkala menyaksikan kondisi saat ini. Jalanan berhiaskan lampu temaram yang dulu laguh-lagah, kini lengang laksana taman bahagia. Jarang didapati kendaraan membelah jalanan, paling hanya satu dua yang melintas. Kios-kios pun ditutup sementara, masyarakat dibui di rumahnya, tak boleh keluar, apalagi pelesiran. Merujuk ke peraturan pemerintah, sekolah ditutup pula, guru dan siswa dirumahkan. Bukan dilarang belajar, namun takut menjadi klaster baru penyebaran.

          Tak lain dan tak bukan, semua karena pandemi yang tak kunjung usai. Hadirnya virus tak diundang membawa selaksa perubahan dalam kehidupan. Tak luput dari buntutnya, konstelasi pendidikan di Indonesia pun turut beralih, dari pendidikan tatap muka menjadi pendidikan jarak jauh melalui jalur daring. Demikian pula yang dijalankan SMA Negeri 4 Semarang. Siswa menimba ilmu dari rumah masing-masing dan guru menatar mereka dari ruang yang berbeda. Guru dan siswa bak dua insan yang tengah menjalin hubungan jarak jauh, hanya bisa bertatap via videofon untuk melepas kerinduan. Ruang kelas yang biasa dipenuhi hiruk-pikuk siswa kini sunyi senyap. Tak ada yang menjamahnya, kecuali debu yang setia di sana.

                   Iis menunaikan kewajiban dengan membentangkan materi Pupuh Kinanthi Serat Wedhatama. Merujuk pada Iis, Pupuh Kinanthi tidak hanya materi wajib semata, namun juga berisi wejangan perihal khalikah baik yang laik untuk generasi muda. Iktibar dalam Pupuh Kinanthi amat tepat dijadikan pedoman bagi manusia.

 Mangka kanthining tumuwuh

Salami mung awas eling,

Eling lukitaning alam,

Dadi wiryaning dumadi,

Supadi nir ing sangsaya,

Yeku pangreksaning urip